PORTENET STEM Buka Akses Praktik Jaringan bagi 118 Siswa

Siswa SMK berlatih merakit sambungan kabel fiber optik menggunakan media praktik jaringan portabel di ruang kelas

SMK Sriwedari Malang – Inovasi PORTENET STEM di SMK Telkom Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, membuka akses praktik jaringan komputer yang lebih merata bagi siswa. Media praktik portabel tersebut memungkinkan siswa berlatih menggunakan peralatan yang lebih ringkas, mudah dipindahkan, dan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memberitakan inovasi ini pada 5 November 2026. PORTENET STEM merupakan singkatan dari Portable Network Teaching Kit dan dikembangkan oleh Agus Prianto, guru SMK Telkom Purwokerto.

Dalam implementasinya, sebanyak 118 siswa kelas X Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi memperoleh pengalaman praktik menggunakan media tersebut. Kegiatan tidak hanya berfokus pada penjelasan teori, tetapi juga memberi kesempatan kepada siswa untuk merakit sambungan kabel fiber optik, melakukan pengukuran, berdiskusi, serta menyelesaikan persoalan teknis.

Menjawab keterbatasan praktik di kelas

Pembelajaran praktik jaringan komputer membutuhkan peralatan, ruang, dan waktu yang memadai. Ketika jumlah siswa cukup banyak, satu set peralatan tidak selalu dapat digunakan oleh seluruh peserta secara bersamaan. Perpindahan ruang kelas juga dapat membuat proses membawa dan menata perangkat menjadi lebih sulit.

PORTENET STEM dirancang untuk menjawab persoalan tersebut melalui bentuk media yang ringkas dan mudah dipindahkan. Dengan karakter portabel, perangkat praktik dapat dibawa ke ruang pembelajaran yang tersedia tanpa memerlukan penataan peralatan jaringan dalam jumlah besar.

Pendekatan ini penting dalam pembelajaran kejuruan karena pengalaman langsung merupakan bagian dari proses membangun kompetensi. Siswa tidak hanya mengingat fungsi kabel atau konektor, tetapi juga berlatih mengikuti tahapan kerja, mengamati hasil pengukuran, menemukan kesalahan, dan menentukan langkah perbaikannya.

Memanfaatkan material yang masih layak

Salah satu aspek yang menonjol dari inovasi ini adalah pemanfaatan material yang masih layak dari kegiatan praktik dan perlombaan. Bahan yang digunakan antara lain papan tripleks, kabel fiber optik, dan konektor.

Pemanfaatan tersebut menunjukkan bahwa media pembelajaran tidak selalu harus dibuat dengan perangkat baru atau berbiaya besar. Material yang tersedia dapat diolah menjadi sarana praktik apabila dirancang sesuai tujuan pembelajaran dan kebutuhan siswa.

Dalam konteks sekolah kejuruan, penggunaan bahan yang masih dapat dimanfaatkan juga dapat memperkuat sikap kerja yang efisien. Siswa dapat melihat bahwa perencanaan, ketelitian, dan kemampuan mengoptimalkan sumber daya merupakan bagian dari kompetensi teknis.

Praktik mencakup perakitan hingga pemecahan masalah

Melalui PORTENET STEM, siswa kelas X Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi berlatih merakit sambungan kabel fiber optik. Proses tersebut dilengkapi dengan kegiatan pengukuran untuk memeriksa hasil pekerjaan.

Kegiatan praktik juga melibatkan diskusi dan pemecahan masalah teknis. Pola belajar seperti ini memberi ruang bagi siswa untuk membandingkan hasil, menyampaikan temuan, dan mencari penyebab ketika sambungan atau pengukuran belum sesuai harapan.

Dengan demikian, media ini tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu demonstrasi. PORTENET STEM digunakan untuk menghadirkan aktivitas praktik yang memungkinkan lebih banyak siswa terlibat dalam proses kerja. Pengalaman tersebut menjadi penting karena keterampilan jaringan komputer dibangun melalui latihan berulang dan pemeriksaan terhadap hasil pekerjaan.

Asesmen dilaporkan mengalami peningkatan

Laporan implementasi yang mengutip publikasi Kemendikdasmen menyebutkan adanya peningkatan capaian asesmen dari 46 persen menjadi 87,98 persen. Selain itu, sebanyak 117 dari 118 siswa dilaporkan mencapai ketuntasan belajar dalam implementasi tersebut.

Angka tersebut menunjukkan hasil pada kelompok siswa yang mengikuti penerapan PORTENET STEM di SMK Telkom Purwokerto. Data itu dapat menjadi gambaran awal mengenai potensi media praktik portabel dalam mendukung pembelajaran jaringan komputer.

Namun, hasil tersebut perlu dibaca secara proporsional. Capaian asesmen berasal dari satu sekolah dan kelompok peserta tertentu. Karena itu, angka peningkatan tersebut tidak dapat dianggap sebagai gambaran hasil seluruh siswa SMK di Indonesia atau sebagai bukti bahwa media yang sama pasti menghasilkan dampak identik di setiap sekolah.

Pelajaran bagi pengembangan pembelajaran SMK

Inovasi PORTENET STEM memberikan beberapa pelajaran yang relevan bagi sekolah kejuruan. Pertama, rancangan media praktik dapat disesuaikan dengan masalah nyata di kelas, seperti keterbatasan ruang, jumlah siswa, mobilitas peralatan, dan waktu pembelajaran.

Kedua, pemerataan pengalaman praktik perlu menjadi perhatian. Media yang lebih ringkas dapat membantu sekolah mengatur kesempatan belajar agar tidak hanya beberapa siswa yang aktif menggunakan peralatan, sementara peserta lain hanya mengamati.

Ketiga, pemanfaatan material yang masih layak dapat menjadi pilihan dalam pengembangan alat pembelajaran. Sekolah dapat memetakan bahan yang tersedia, menentukan kompetensi yang hendak dilatih, lalu merancang media yang aman dan fungsional sesuai kebutuhan.

Keempat, keberhasilan media praktik sebaiknya dinilai melalui proses dan hasil belajar. Keterlibatan siswa dalam perakitan, pengukuran, diskusi, serta penyelesaian masalah dapat menjadi bagian dari evaluasi, selain capaian asesmen akhir.

Inovasi yang berangkat dari kebutuhan siswa

PORTENET STEM SMK Telkom Purwokerto memperlihatkan bahwa inovasi pembelajaran dapat berangkat dari kebutuhan sehari-hari di ruang praktik. Tantangan dalam mengelola jumlah siswa dan peralatan tidak hanya diselesaikan dengan menambah perangkat, tetapi juga melalui desain media yang lebih portabel dan adaptif.

Bagi sekolah lain, pengalaman ini dapat menjadi inspirasi untuk mengembangkan media praktik sesuai kompetensi keahlian masing-masing. Penerapannya tetap perlu mempertimbangkan kondisi ruang, ketersediaan bahan, keselamatan kerja, kesiapan guru, serta karakteristik peserta didik.

Dengan pendekatan tersebut, pembelajaran praktik diharapkan tidak berhenti pada kepemilikan alat. Hal yang lebih penting adalah memastikan setiap siswa memperoleh kesempatan untuk mencoba, mengukur, berdiskusi, memperbaiki kesalahan, dan memahami alasan di balik setiap langkah kerja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *